Rabu, 06 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM
(ILMU NUTRISI TERNAK RUMINANSIA)


OLEH
NAMA :                 NIM :

M.ISROK IRAJAB        :    (B1D 010 113)


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar  belakang
    Sejarah pendidikan ilmu peternakan di Indonesia di mulai dengan pendidikan kedokteran  hewan dan jaman penjajahan belanda.pelajaran ilmu peternakan di integrasi sedemikian rupa sehingga wewenang untuk menggarap dan membina pengembangan peternakan.
    Dengan pertambahan penduduk di Indonesia maka kebutuhan hasil peternakan semakin meningkat,untuk itu perlu di tingkatkan produk-produk peternakan,seperti daging,susu,untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.Di samping itu peternak perlu meningkatkan kualitas daging dan susu untuk memperoleh hasil yang lebih banyak.
    Kualitas ternak,baik daging maupun susu sangat berpengaruh terhadap kualitas pakan yang di konsumsi.seperti penyisunan ransum sapi.ransum yang bagus untuk ternak sapi apabila kandungan protein,lemak dan serat kasar,vitaminnya harus sesuai kebutuhan.
    Semakin baik pakan yang di konsumsi oleh ternak sapi maka kualitas daging maupun susunyapun semakin bagus.
    Dalam beberapa keadaan,peternak akan merasa rugi bila memakai ransum yang di buat oleh salah satu pengusaha makanan ternak.menyusun ransum untuk keperluan sendiri dengan menggunakan bahan-bahan makanan yang mudah di peroleh di sekitar peternakan atau dengan bahan makanan  hasil pertanian sendiri,mungkin dapat menguntungkan serta lebih sesuai dengan kebutuhan ternak yang sedang di pelihara.
    Penyusunan ransum yang tepat sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap periode pertumbuhan dan dipengaruhi oleh nilai gizi dan bahan-bahan makanan yang akan di pergunakan dalam ransum harus di ketahui dahulu kandungan zat-zat makanan dalam bahan-bahan makanan tersebut.Dengan demikian kekeurangan salah satu zat makanan dapat di tutupi dengan mempergunakan bahan-bahan makanan yang mengandung zat makanan tersebut.kalau kadar zat-zat makanannya seimbang produksi tidak akan terganggu.
Dalam ilmu pakan ternak, faktor keseimbangan yang dimaksud adalah kesesuaian antara kuantitas maupun kualitas zat gizi pakan dan kebutuhan ternak. Prinsipnya faktor yang menjadi pedoman pakan ruminansia adalah kandungan protein, energi, karbohidrat, dan bahan kering pakan, serta
ketepatan proporsi masing-masing sehingga sesuai dengan kebutuhan ternak sapi (McDonald dkk., 1996). Dalam hal ini para petani kebanyakan tidak memperhitungkan secara lengkap karena tidak paham tentang ilmu pakan ternak sapi.
Salah satu cara prospektif untuk meningkatkan efisiensi UPSPK adalah melalui perbaikan kualitas dan kuantitas produksi daging sapi dengan menekan biaya produksi serta berlandaskan penerapan inovasi pakan sesuai kebutuhan (adequate feed). Implementasi inovasi teknologi adequate feed tidak hannya dapat meningkatkan jumlah pakan yang dikonversi dan dideposisi ke dalam jaringan tubuh sapi (termasuk daging), tetapi juga akan menghindarkan pemborosan biaya produksi untuk pembelanjaan pakan berlebih.
berdasarkan pertimbangan bahwa pemberian pakan berlebihan berarti alokasi modal besar, yang konsekuensi lainnya mengakibatkan efisiensi pakan tidak optimal sehinga residu yang tereksresikan berlebihan dan dapat menimbulkan polusi lingkungan. Sehubungan dengan itu pada kesempatan ini dipresentasikan teknologi dalam bentuk suatu formula adequate feed untuk penggemukan/pembesaran ternak sapi dengan menggunakan bahan baku lokal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  Pakan ternak merupakan komponen biaya produksi terbesar dalam suatu usaha peternakan. Oleh karena itu pengetahuan tentang pakan dan pemberiannya perlu mendapat perhatian yang serius. Ransum yang diberikan kepada ternak harus diformulasikan dengan baik dan semua bahan pakan yang dipergunakan dalam menyusun ransum harus mendukung produksi yang optimal dan efisien sehingga usaha yang dilakukan dapat menjadi lebih ekonomis.Hal-hal yang berkaitan dengan pemberian pakan ternak  adalah kebutuhan nutrisi ternak, komposisi nutrisi bahan pakan penyusun ransum dan bagaimana beberapa bahan dapat dikombinasikan (penyusunan ransum standar) untuk mencukupi kebutuhan ternak (Subandriyo et al. 2000).
Kecernaan In vivo merupakan suatu cara penentuan kecernaan nutrient menggunakan hewan percobaan dengan analisis nutrient pakan dan feses (Tillman et al. 2001). Anggorodi (2004) menambahkan pengukuran kecernaan atau nilai cerna suatu bahan merupakan usaha untuk menentukan jumlah nutrient dari suatu bahan yang didegradasi dan diserap dalam saluran pencernaan. Daya cerna merupakan persentse nutrient yang diserap dalam saluran pencernaan yang hasilnya akan diketahui dengan melihat selisih antara jumlah nutrient yang dikonsumsi dengan jumlah nutrient yang dikeluarkan dalam feses.
Domba mampu mengkonsumsi pakan berserat, biasanya jerami yang telah dipotong-potong (chop). Secara alami, domba senang mengkonsumsi rumputrumputan,namun pemberian pakan yang hanya berupa rumput-rumputan belum dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan sebagai sumber energi dan protein. Rumput hanya merupakan bahan pakan sumber energi. Penambahan bahan pakan sebagai sumber protein merupakan suatu hal yang mutlak dilakukan jika usaha penggemukan domba berorientasi bisnis. Penambahan sumber protein akan mempercepat pertumbuhan domba dan dalam skala luas mempercepat waktu pemeliharaan sehingga domba bisa dijual lebih cepat (Sodiq & Abidin 2002).
Pencernaan pada ternak ruminansia merupakan proses yang kompleks, melibatkan interaksi yang dinamis antara makanan, mikroba dan hewan. Pencernaan merupakan proses yang multi tahap. Proses pencernaan pada ternak ruminansia terjadi secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba di rumen, dan hidrolitis oleh enzim pencernaan di abomasum dan duodenum hewan induk semang. Sistem fermentasi dalam perut ruminansia terjadi pada sepertiga dari alat pencernaannya. Hal tersebut memberikan keuntungan yaitu produk fermentasi dapat disajikan ke usus dalam bentuk yang lebih mudah diserap. Namun ada pula kerugiannya, yakni banyak energi yang terbuang sebagai CH4 (6-8%) dan sebagai panas fermentasi (4-6%), protein bernilai hayati tinggi mengalami degradasi menjadi NH3, dan mudah menderita ketosis.
Oleh karena itu sangat penting apabila dapat mengetahui kualitas suatu bahan pakan dan daya cerna bahan pakan tersebut dalam alat pencernaan ternak tersebut. Karena zat- zat makanan yang terdapat dalam pakan akan dicerna menjadi zat makanan yang lebih sederhana, karbohidrat menjadi monosakarida, protein menjadi asam amino,lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Jadi daya cerna suatu bahan pakan dapat didefinisikan sebagai bahan pakan yang dikonsumsi oleh seekor ternak dan tidak dikeluarkan lagi dalam bentuk feses.

Tujuan dan kegunaan praktikum
A.Tujuan Praktikum
 Adapun maksud dan tujuan penelitian yaitu untuk mengatahui bagaimana cara atau tehnik peternak memberikan pakan pada ternak sapi.
B.Kegunaan Praktikum
      Adapun keguna’an penelitian yaitu agar mahasiswa bisa mengetahui  karakter ternak sapi dan agar mahasiswa mampu memberikan motivasi kepada peternakan  sapi tsb.


BAB III
MATERI DAN METODE
A.Materi praktikum
    - alat praktikum
    - Sekop
   -  Plastic
   -  Parang
   - Ember
   - Neraca
   - Karung
   - Bahan praktikum
   - ternak sapi
   - rumput gajah
   - konsetrat
B.Adapun metode yang kami lakukan adalah:
   - Bagi anggota kelompok menjadi 4 subkelompok,petugas menimbang.
   - Sisa pakan(kontrol)
   - sisa pakan (perlakuan)
   - Rumput yang akan diberikan
   - konsetrat yang akan diberikan.
   - Cincang rumput 3-5 cm.
   - Timbang  rumput 23 kg(kontrol) dan 4 kg(perlakuan)
   - timbang bahan konsentrat 9(total 4000g),sbb:
Bahan Ransum    Berat (g)
   - butiran jagung    2.680
   - Bungkil kelapa    1.2000
   - Kapur    60
   - Premix    60
   - Campur bahan konsetrat hingga homogeny.
   - Rumput maupun konsetrat dibagi dua (untuk pagi dan sore)
   - Timbang sisa pakan (Rumput maupun Konsetrat)
   - Pisahkan masing-masing bahan konsetrat dan timbang.
   - timbang feses
   - bersihkan kandang dan peralatanya
   - Hitung konsumsi BK dan keluaran BK (sesuai teori/foto copy)


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil praktikum
Adapun hasil praktikum yang kami dapat adalah:

TERNAK PERLAKUAN
    Ternak no.210

PENGAMATAN:
    Gigi: 4 Pasang
    Jenis kelamin:jantan
    Operasi Paha: Sebelah Kiri
    Kondisi ternak:sehat,Gemuk.
    Kondisi Mata:cerah,tidak ada air ditepi matanya
    Kehalusan Bulu:Halus
    Warna Bulu:Coklat di Campur Putih
    Ukuran kandang:
    Panjang: 2 Meter
    Lebar: 1 Meter
    Ukuran tempat pakan:
    Panjang:
    Lebar:

    Trenak no.229

PENGAMATAN:
    Gigi: 4 Pasang
    Jenis kelamin:jantan
    Operasi Paha: Sebelah Kiri
    Kondisi ternak:sehat,Gemuk.
    Kondisi Mata:cerah,tidak ada air ditepi matanya
    Kehalusan Bulu:Halus
    Warna Bulu:Coklat di Campur Putih
    Ukuran kandang:
    Panjang: 2 Meter
    Lebar: 1 Meter
    Ukuran tempat pakan:
    Panjang:
    Lebar:
TERNAK KONTROL
    Ternak no.213

PENGAMATAN:
    Gigi: 4 Pasang
    Jenis kelamin:jantan
    Operasi Paha: Sebelah Kiri
    Kondisi ternak:sehat,Gemuk.
    Kondisi Mata:cerah,tidak ada air ditepi matanya
    Kehalusan Bulu:Halus
    Warna Bulu:Coklat di Campur Putih
    Ukuran kandang:
    Panjang: 2 Meter
    Lebar: 1 Meter
    Ukuran tempat pakan:
    Panjang:
    Lebar:



    Ternak no.224

PENGAMATAN:
    Gigi: 4 Pasang
    Jenis kelamin:jantan
    Operasi Paha: Sebelah Kiri
    Kondisi ternak:sehat,Gemuk.
    Kondisi Mata:cerah,tidak ada air ditepi matanya
    Kehalusan Bulu:Halus
    Warna Bulu:Coklat di Campur Putih
    Ukuran kandang:
    Panjang: 2 Meter
    Lebar: 1 Meter
    Ukuran tempat pakan:
    Panjang:
    Lebar:


PEMBAHASAN
Percobaan kecernaan dibedakan menjadi dua periode, yaitu periode pendahuluan dan periode koleksi. Periode pendahuluan berlangsung selama 7 hari sampai 10 hari dan periode koleksi selama 5 hari sampai 15 hari (Tillman et al. 2001). Menurut Church dan Pond (2004) periode pendahuluan berlangsung 4 sampai 10 hari, dan koleksi 4 sampai 10 hari. Bahwa tingkat konsumsi yang konsisten ditetapkan selama periode pendahuluan untuk menghindari fluaktuasi ekskresi yang dramatis, dan perbedaan jumlah feses dapat menyebabkan kesalahan dalam percobaan ini. Selama percobaan tersebut feses dikumpulkan, di timbang, dan dianalisis untuk mengetahui zat-zat makanannya.
Pelaksanaan In vivo dibagi menjadi 3 periode yaitu periode adaptasi, pendahuluan, dan koleksi. Periode adaptasi bertujuan untuk mengadaptasikan ternak dengan pakan yang akan diuji kecernaan serta penggunaan metabolism kit. Periode ini berlangsug kurang lebih 7 sampai 15 hari. Periode pendahuluan bertujuan untuk menjajaki jumlah pakan yang dimakan serta feses dan urine yang dikeluarkan. Pemberian obat cacing untuk memastikan bahwa tidak ada kontaminasi pada proses pencernaan. Periode berlangsung selama 7 hari. Dalam periode ini pengambilan data sudah dimulai.
Daya cerna campuran bahan pakan tidak selalu sama dengan rata-rata daya cerna komponen bahan-bahan yang menyusunnya. Hal ini desebabkan karena adanya efek asosiasi pakan. Daya Cerna Semu Protein Kasar, hal ini tergantung persentase protein kasar dalam pakan, oleh karena itu N2 metabolik konstan tambah jumlahnya. Perlakuan Pakan, perlakuan pakan terhadapbahan pakan seperti pemotongan, penggilingan, dan pemasakan mempengaruhi daya cernanya.
Pada percobaan ini, satu hal yang perlu diketahui adalah seleksi rerumputterutama besarnya selektifitas, yang dihubungkan dengan pemberian pakan berlebihan dan pengaruh kecernaan pakan.Karena percobaan kecernaan adalah mahal serta memerlukan banyak tenaga, maka telah dikembangkan metode laboratorium yaitu estimasi kecernaan secara in-vitro. Kecernaan invivodapat diprediksi daya cernanya secara lebih sempurna (mendekati kenyataan) yang dikenal dengan metode Tilley dan Terry, dimanapakan diinkubasikan di dalam buffer dan cairan rumen pada kondisi anaerob selama 48 jam. Tahap yang kedua, mikroba rumen dimatikan dengan asam hidrokhlorida sampai pH sekitar 2, selanjutnya dicerna dengan pepsin dan diinkubasikan selama 24 jam. Nilai kecernaan in-vitro umumnya lebih rendah dari pada kecernaan in-vivo.Maka untuk sekelompok bahan pakan perlu memprediksi persamaan untuk menghubungkan antara nilai in-vitro dan in-vivo.
Jadi dalam evaluasi pakan, disamping kandungan zat makanan suatu pakan kita juga harus mempertimbangkan jumlah pakan yang dikonsumsi dan daya cernanya oleh suatu ternak. Secara umum pengukuran daya cerna suatu bahan pakan terdiri dari dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran daya cerna secara langsung ini menggunakan ternak sebagai hewan percobaan. Pengukuran ini meliputi pengukuran daya cerna secara ini vivo, teknik indikator, dan teknik kantong nylon.
Periode koleksi, pengumpulan data dimulai dengan kegiatan sebagai berikut :
1. Sebelum koleksi dimulai peralatan seperti kandang, tempat pakan, tempat feses dan urine dibersihkan.
2. Ternak sudah diketahui berat badannya untuk perkiraan pakan yang dibutuhkan. Disamping itu untuk mengetahui kenaikan atau penurunan berat badan ternak yang diuji (berkaitan dengan pengaruh pemberian pakan terhadap performa ternak).
3. Koleksi feses dan urine dilakukan pada pagi hari sebelum ternak diberi pakan serta ditimbang beratnya. Khususnya untuk penampung urine, diberikan pengawet Asam Sulfat.
4. Koleksi pakan dimulai dua hari sebelum koleksi feses dimulai dan diakhiri dua hari sebelum koleksi feses berakhir.
5. Periode koleksi biasanya berlangsung selama 7 hari, tergantung kebutuhan dan keadaan. Pemberian pakan dan minum secara ad libitum.


Kontrol
 perlakuan

                 KONSUMSI KONSENTRAT (kg KU)
                                       HARI KE
NO    BB (Kg)
                      1       2       3       4       5       6       7     rata2 kg/hari
229    200    3,6    2,5    3,6    3,6    2,2    3,0    3,8    3,2
210    192,5 1,4    2,6    1,3    2,6    1,4    2,6    2,4    2,0
224    145    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0
213    217    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0

             KONSUMSI RUMPUT ( kg SEGAR)
                               HARI KE
NO    BB (kg)       RATA2 (kg/hari)
                     1        2       3       4       5       6       7   rata2 kg/hari
229    200    2,0      4,6    2,0    2,0    1,0    2,0    2,0    2,2
210    192,5  2,0     3,1    2,0    2,0    1,0    2,0    2,0    2,0
224    145    19,9    7,0    20,8  20,8  22,5  19,2  20,2  18,6
213    217    15,1    5,2    18,1  17,8  20,4  20,1  19,0  16,5

                    BOBOT FESES (kg SEGAR)
                                  HARI KE
NO    BB (kg)  
                      1       2       3       4       5      6       7     rata2/kg/hari
229    200    5,2    4,6    4,4    4,3    4,8    5,0    4,5    4,7
210    192,5  2,1    3,1    3,2    2,0    2,6    3,3    3,5    2,8
224    145    7,3    7,0    6,9    5,0    6,4    6,9    7,0    6,6
213    217    4,0    5,2    6,4    5,7    6,3    7,3    5,3    5,7

    KONSUMSI KONSENTRAT (Kg BK), KADAR BK = 86 %
                                 HARI KE
NO    BB (kg) 
                      1       2       3       4       5       6      7     rata2 kg/hari
229    200    3,1    2,2    3,1    3,1    1,9    2,6    3,3    2,7
210    192,5 1,2    2,2    1,1    2,2    1,2    2,2    2,1    1,8
224    145    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0
213    217    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0    0,0

        KONSUMSI RUMPUT (Kg BK), KADAR BK = 17 %
                                       HARI KE
NO    BB (Kg)
                      1       2       3       4       5       6       7     rata2 kg/hari
229    200    0,3    0,8    0,3    0,3    0,2    0,3    0,3    0,4
210    192,5 0,3    0,5    0,3    0,3    0,2    0,3    0,3    0,3
224    145    3,4    1,2    3,5    3,5    3,8    3,3    3,4    3,2
213    217    2,6    0,9    3,1    3,0    3,5    3,4    3,2    2,8

                      TOTAL KONSUMSI BK (Kg)
                                       HARI KE
NO    BB (Kg) 
                      1       2       3       4      5       6       7     rata2 kg/hari
229    200    3,4    2,9    3,4    3,4    2,1    2,9    3,6    3,1
210    192,5 1,5    2,8    1,5    2,6    1,4    2,6    2,4    2,1
224    145    3,4    1,2    3,5    3,5    3,8    3,3    3,4    3,2
213    217    2,6    0,9    3,1    3,0    3,5    3,4    3,2    2,8

                        TOTAL BK FESES (Kg)
                                    HARI KE
NO    BB (Kg) 
                      1       2       3       4       5       6       7   rata2 kg/hari
229    200    1,2    0,7    0,7    1,0    1,1    1,2    1,0    1,0
210    192,5 0,5    0,5    0,5    0,5    0,6    0,8    0,8    0,6
224    145    1,7    1,1    1,0    0,8    1,0    1,0    1,1    1,1
213    217    0,9    0,8    1,0    0,9    0,9    1,1    0,8    0,9

    Konsumsi konsentrat
Perlakuan
Sapi no : 229
Hari :
    86/100 x 3,6=3,096 ⇾3,1
    86/100 x 2,5=2,15   ⇾2,2
    86/100 x 3,6 = 3,01
    86/100 x 3,6 = 3,01
    86/100 x 2,2 = 1,9
    86/100 x 3,0 = 2,6
    86/100 x 3,8 = 3,3
Sapi no : 210
Hari :
    86/100 x 1,4 = 1,2
    86/100 x 2,6 = 2,2
    86/100 x 1,3 = 1,1
    86/100 x 2,6 = 2,2
    86/100 x 1,4 = 1,2
    86/100 x 2,6 = 2,2
    86/100 x 2,4 = 2,1

    Konsumsi rumput
Perlakuan
Sapi no : 229
Hari :
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 4,6 = 0,8
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 1,0 = 0,2
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 2,0 = 0,3
Sapi no :210
Hari :
    17/100 x 2,0=0,3
    17/100 x 3,1 = 0,5
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 1,0 = 0,2
    17/100 x 2,0 = 0,3
    17/100 x 2,0 = 0,3
Kontrol
Sapi no : 224
Hari :
    17/100 x 19,9 = 3,4
    17/100 x 7,0   = 1,2
    17/100 x 20,8 = 3,5
    17/100 x 20,8 = 3,5
    17/100 x 22,5 = 3,8
    17/100 x 19,2 = 3,3
    17/100 x 20,2 = 3,4
Sapi no : 213
Hari :
    17/100 x 15,1 = 2,56        7. 17/100 x 19,0 = 3,23
    17/100 x 5,2   = 0,88
    17/100 x 18,1 = 3,07
    17/100 x 17,8 = 3,02
    17/100 x 20,4 = 3,46
    17/100 x 20,1 = 3,41
Total BK feses (kg)
Perlakuan
Sapi no : 229
Hari :
    17/100 x 5,2 = 1,5
    17/100 x 4,6 = 1,05
    17/100 x 4,4 = 1,01
    17/100 x 4,3 = 0,989
    17/100 x 4,8 = 1,10
    17/100 x 5,0 = 1,2
    17/100 x 4,5 = 1,03
Sapi no : 210
Hari :
    23/100 x 2,1 = 0,48
    23/100 x 3,1 = 0,71
    23/100 x 3,2 = 0,7
    23/100 x 2,0 = 0,46
    23/100 x 2,6 = 0,6
    23/100 x 2,3 = 0,52
    23/100 x 3,5 = 0,8

Kontrol
Sapi no : 224
Hari :
    15/100 x 7,3 = 1,1
    15/100 x 7,0 = 1,05
    15/100 x 6,9 = 1,03
    15/100 x 5,0 = 0,75
    15/100 x 6,4 = 0,96
    15/100 x 6,9 = 1,035
    15/100 x 7,0 = 1,1
Sapi no : 213
Hari :
    15/100 x 4,0 = 0 ,6
    15/100 x 5,2 = 0,78
    15/100 x 6,4 = 0,96
    15/100 x 5,7 = 0,85
    15/100 x 6,3 = 0,94
    15/100 x 7,3 = 1,09
    15/100 x 5,3 = 0,79


Total konsumsi BK (kg)
Perlakuan : rumput + konsentrat
Sapi no : 229
Hari :
    0,3 + 3,1 = 3,4
    0,8 + 2,2 = 3,0
    0,3 + 3,1 = 3,4
    0,3 + 3,1 = 3,4
    0,2 + 1,9 = 2,1
    0,3 + 2,6 = 3,9
    0,3 + 3,3 = 3,6
Sapi no : 210
Hari :
    0,3 + 1,2 = 1,5
    0,3 + 2,2 = 2,7
    0,3 + 1,1 = 1,4
    0,3 + 2,2 = 2,5
    0,2 + 1,2 = 1,4
    0,3 + 2,2 = 2,5
    0,3 + 2,1 = 2,4



Kontrol : rumput segar
Sapi no : 224
    3,4
    1,2
    3,5
    3,5
    3,8
    3,3
    3,4
Sapi no : 213
    2,6
    0,9
    3,1
    3,0
    3,5
    3,4
    3,2

Kecernaan BK :
(BK inteke-BK feses )/(BK intake) x 100 %
Sapi no : 229
Hari :
    (3,4-1,2 )/(3,4) x 100 % = 64,70 %
    (2,9-0,7 )/(2,9) x 100 % = 75,86 %
    (3,4 -0,7 )/(3,4) x 100 % = 79,41 %
    (2,9-1,0 )/(2,9) x 100 % = 70,58 %
    (2,1-1,1 )/(2,1) x 100 % = 47,61 %
    (2,9-1,2 )/(2,9) x 100 % = 58,62 %
    (3,6-1,0 )/(3,6) x 100 % = 72,22 %
Sapi no : 210
Hari :
    (1,5-0,5 )/(1,5) x 100 % = 66,66 %
    (2,8-0,5 )/(2,8) x 100 % = 82,14 %
    (1,5-0,5 )/(1,5) x 100 % = 66,66 %
    (2,6-0,5 )/(2,6) x 100 % = 80,76 %
    (1,4-0,6 )/(1,4) x 100 % = 57,14 %
    (2,6-0,8 )/(2,6) x 100 % = 69,23 %
    (2,4-0,8 )/(2,4) x 100 % = 66,66 %
Sapi no : 224
Hari :
    (3,4-1,7 )/(3,4) x 100 % = 50 %
    (1,2-1,1 )/(1,2) x 100 % = 8,33 %
    (3,5-1,0 )/(3,5) x 100 % = 71,42 %
    (3,5-0,8 )/(3,5) x 100 % = 77,14 %
    (3,8-1,0 )/(3,8) x 100 % = 73,68 %
    (3,3-1,0 )/(3,3) x 100 % = 69,69 %
    (3,4-1,1 )/(3,4) x 100 % = 67,64 %
Sapi no : 213
Hari :
    (2,6-0,9 )/(2,6) x 100 % = 65,38 %
    (0,9-0,8 )/(0,9) x 100 % = 11,11 %
    (3,1-1,0 )/(3,1) x 100 % = 67,74 %
    (3,0-0,9 )/(3,0) x 100 % = 70 %
    (3,5-0,9 )/(3,5) x 100 % = 74,28 %
    (3,4-1,1 )/(3,4) x 100 % = 67,64 5
    (3,2-0,8 )/(3,2) x 100 % = 75 %

KESIMPULAN

1.      Penghitungan metode In Vivo ini dengan cara mengurangi konsumsi dengan sisa pakan, yaitu dengan mengukur banyaknya pakan yang dikeluarkan lewat feces. Pakan yang dikonsumsi merupakan selisih antara jumlah pakan yang diberikan dan jumlah pakan yang tersisa.
2.      Pelaksanaan In vivo dibagi menjadi 3 periode yaitu periode adaptasi, pendahuluan, dan koleksi. Periode adaptasi bertujuan untuk mengadaptasikan ternak dengan pakan yang akan diuji kecernaan.
3.      Dalam evaluasi pakan, disamping kandungan zat makanan suatu pakan juga harus mempertimbangkan jumlah pakan yang dikonsumsi dan daya cernanya oleh suatu ternak.
Saran
    Adapun saran dari kelompok 19 adalah bagi para praktikan harus serius pada saat praktikum dan juga harus bertanggung jawab atas tugas-tugas/laporan yang telah dibagi-bagikan.terimaksih, selamat bekerja....


DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi. 2004. Pencernaan Mikrobia Pada Ruminansia (terjemahan).
Cetakan pertama. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
 http:// www.fapet-ugm.ac.id/files/pdf
Subandriyo et al. 2000. Pendugaan kualitas bahan pakan  untuk  teroak  ruminansia.  Fakultas Peternakan  Institut Pertanian Bogor.
 http :// www.fapet-ipb.ac.id/files/edu
Sodiq & Abidin. 2002. Pengaruh Umur Pemotongan Spesies Rumput terhadap Produksi Komposisi Kimia Kecernaan In Vitro dan In Sacco. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
 http:// www.fapet-ugm.ac.id/files/pdf
Tillman,A.D,.H.Hartadi,S. Reksohadiprodjo. 2001.Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
http:// www.fapet-ugm.ac.id/files/pdf

Minggu, 03 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU REPRODUKSI TERNAK UNGGAS

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU REPRODUKSI TERNAK UNGGAS


O
L
E
H
NAMA     :     M.ISROK IRAJAB
NIM         :     B1D 010 113
KELAS     :     B
KELOMPOK :    1
FAAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2012
BAB I

PENDAHULUAN
Ternak unggas merupakan aset nasional yang turut menunjang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan produk peternakan membuktikan bahwa usaha peternakan dewasa ini mengalami kemajuan. Diantara produk-produk tersebut unggas memegang peranan yang sangat penting, karena digemari dan banyak dikenal oleh masyarakat.
Pengamatan eksterior dan anatomi fisiologi unggas dilakukan dengan tujuan mengetahui eksterior unggas jantan dan betina baik ayam maupun itik, serta anatomi fisiologi unggas yang meliputi sistem pernapasan, pencernaan, reproduksi dan urinari. Penyusunan ransum dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah aljabar, linear, dan trial and error, dalam praktikum ini digunakan metode trial and error. Praktikum Produksi Ternak Unggas dengan materi  penyusunan ransum sesuai dengan komposisi zat-zat gizi yang dibutuhkan ayam. Manfaat yang dapat diambil dari praktikum Produksi Ternak Unggas dengan materi anatomi unggas adalah agar praktikan dapat mengetahui secara jelas perbedaan antara unggas darat dan unggas air. Dengan pengamatan eksterior serta mengetahui sistem pernapasan, pencernaan, reproduksi, dan urinari. Manfaat yang dapat diambil yaitu praktikan mangetahui secara jelas perbedaan antara unggas darat dan unggas air, anatomi dan fisiologi unggas serta dapat menyusun ransum unggas dengan benar dan tepat sehingga sesuai kebutuhan gizi dan biaya.

                                                                             BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi dan Identifikasi TernakUnggas
            Anatomi yang terpenting dapat membedakan unggas dari mamalia dari kondisi psikologi, biologi dan patologi yang dapat ditentukan terutama di organ kepala, organ pencernaan, organ pernafasan, organ urinari, dan organ reproduksi. Ternak unggas adalah bangsa bangsa burung yang mempunyai nilaiekonomis dan dapat diproduksi secara massal. Jenis ternak unggas yang biasa dipelihara untuk tujuan produksi telur ataupun daging antaralain ayam,itik,kalkun,burung puyuh dan burung merpati. Diantara jenis – jenis unggas tersebut diindonesia yang selama ini popular diternakkan yaitu ayam dan itik.
Aneka ternak unggas sebenarnya sangat potensial, tetapi belum dapat dikembangkan dengan baik (Anggorodi,1994). Anatomi dan fisiologi pada berbagai jenis unggas mempunyai fungsi atau peranan yang hampir sama dan hanya memiliki perbedaan sedikit sekali. Di Indonesia yang selama ini jenis ternak unggas tersebut, Keseluruhan organ-organ di dalam tubuh unggas membentuk satu ikatan untuk mencapai suatu tujuan yang sama yaitu mencapai kelangsungan hidup yang saling melengkapi dan bekerj berkesinambungan antara satu fungsi dengan fungsi yang lain (Akoso, 1998).

Sistem pencernaan
Unggas tidak memiliki gigi atau pinggiran paruh yang bergerigi sehingga pada mulut (paruh) tidak terjadi pencernaan secara mekanik (Anggorodi,1994). Lidah unggas berbentuk runcing dan keras seperti ujung panah dengan arah kedepan serta berbentuk seperti kail pada bagian belakang lidah. Lidah pada unggas berfungsi membantu pada waktu makan karena ada bagian dari lidah yang bercabang pada bagian belakang yang mendorong makanan turun kedalam kerongkongan. Saliva atau kelenjar ludah dalam jumlah sedikit dikeluakan dalam mulut untuk membantu menelan makanan untuk melicinkan makanan yang masuk menuju esophagus dan diteruskan ketembolok (Akoso, 1998).
Organ pencernaan ayam terdiri atas mulut, faring, esophagus, tembolok, lambung, kelenjar, lambung otot, usus halus, usus buntu, usus besar, kloaka, dan alat asesoris yang berupa hati, limpa, dan pankreas (Anggorodi, 1994). Kerongkongan atau esophagus adalah saluran yang menuju ke tembolok dan terus berlanjut ke proventriculus. Bagian esophagus memiliki kemampuan untuk mengembang sehingga menjadi tembolok. Tembolok memiliki bentuk menyerupai kantung. Pakan disimpan dalam tembolok untuk sementara, di sini terjadi pelunakan dan pencernaan pendahuluan yang dibantu oleh enzim. Pakan yang berupa serat kasar dan biji-bijian tinggal di tembolok selama beberapa jam untuk proses pelunakan dan pengasaman (Akoso, 1998). Tembolok itik memiliki perbedaan bentuk dengan tembolok ayam. Tembolok itik berbentuk pipih dan tidak mempunyai batas yang nyata, sedangkan tembolok ayam berbentuk kantung dengan batas yang nyata. Perbedaan bentuk ini disebabkan jenis pakan itik dimana ia lebih banyak menyerap air. Tembolok ayam memiliki dinding yang keras, kuat, dan tebal (Rasyaf, 1997).
Proventriculus atau perut kelenjar merupakan pelebaran dan penebalan dari ujung akhir esophagus. Pencernaan pakan di dalam perut kelenjar hanya kecil peranannya karena makanan hanya tinggal sebentar di dalam organ ini dalam waktu yang relatif singkat (Akoso, 1998). Kelenjar-kalenjar yang terdapat di dalam proventriculus memproduksi getah-getah (asamgaram, pepsin dan HCl) untuk membantu pencernaan makanan di dalam perut dan perut muscular (ventriculus) yang berfungsi sebagai alat penghancur makanan (Anggorodi, 1994).
Empedal tersusun dari suatu struktur bertanduk yang berotot tebal. Empedal berbentuk bulat telur dengan dua lubang saluran di ujung-ujungnya (Blakely dan Bade, 1991). Bagian depan empedal berhubungan dengan perut kelenjar dan bagian lain berhubungan dengan usus halus.  Fungsi utama empedal adalah menggiling dan meremas pakan yang keras. Kerja penggilingan yang terjadi secara tidak sadar oleh otot empedal memiliki kecenderungan untuk menghancurkan pakan seperti yang dilakukan oleh gigi. Apabila unggas secara rutin diberi pakan yang sudah siap tergiling, maka ukuran empedal lama-kelamaan akan menyusut (Akoso, 1998).
Usus halus dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejenum, dan ileum. Duodenum merupakan bagian pertama dari usus halus dimana kelenjar pankreas melekat sejajar pada bagian ini. Jejenum dan ileum agak sulit dibedakan tetapi biasanya terdapat suatu tonjolan kecil yang disebut “Michael Diventrikulum” yang memisahkan jejenum dan ileum. Sebagian besar pencernaan terjadi di dalam usus halus. Proses penyerapan makanan juga mulai terjadi pada usus halus. Lapisan dalam usus halus mempunyai bangunan yang berupa tonjolan-tonjolan yang berlipat-lipat, halus, dan jumlahnya sangat banyak, yang disebut villi berfungsi memperluas permukaan absorbsi dari usus halus (Akoso, 1998). Cairan usus adalah enzim-enzim yang disekresikan untuk memecah guladan zat-zat pakan lainnya menjadi bentuk-bentuk yang sederhana, dimana hasil pemecahan tersebut disalurkan ke dalam aliran darah (Blakely dan Bade, 1991).
Percabangan dari ujung usus halus dikenal dengan caecum. Panjang ceacum mencapai 10-20cm. Didalam ceacum terjadi proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme yang mencerna serat kasar (Srigandono, 1997).Sekum dapat disamakan dengan usus buntu pada manusia, dengan fungsi yang tidak dapat diketahui dengan pasti. Unggas memiliki sepasang secum. Secum biasanya berukuran panjang 10-15 cm dan berisi calon tinja. Usus besar adalah kelanjutan saluran pencernaan dari persimpangan usus buntu ke kloaka. Kloaka merupakan pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinari, genital dan kloaka merupakan pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinari, dan genital (Akoso, 1998).
Hati dan pankreas membantu menghasilkan sekresi untuk pencernaan meskipun makanan yang masuk tidak melalui organ tersebut. Hati berfungsi menyaring darah dan menyimpan glikogen yang dibagikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Fungsi hati yang lain adalah mengeluarkan empedu yang ditampung dalam kantong empedu yang berfungsi untuk mengemulsikan lemak (Akoso, 1998). Pankreas berfungsi mensekresikan enzim-enzim seperti amilase, lipase, dan tripsin untuk membantu pencernaan karbohidrat, protein, dan lemak. Metabolisme  gula juga  diatur oleh hormon  insulin yang dihasilkan oleh pankreas (Blakely dan Bade, 1991). Proses pencernaan pada unggas berlangsung sangat cepat, hanya memerlukan waktu 2,5 jam untuk unggas betina bertelur dan 8-12 jam  pada  ayam  betina  tidak  bertelur,  untuk  perjalanan dari  mulut  ke  kloaka (Sarwono, 1993).

Sistem Reproduksi Unggas
Reproduksi Unggas Jantan 
Sistem reproduksi unggas jantan terdiri dari dua testis bentuknya elips dan berwarnaterang, dan menghasilkan sperma yang masing-masing mempunyai sebuah saluran sperma yang bernama vas defferensserta sebuah kloaka yang menjadi muara dari sistem reproduksi tersebut (Srigandono, 1997). Alat reproduksi unggas jantan terdiri atas alat kelamin pokok danalat kelamin pelengkap. Alat kelamin pokok adalah organ yang langsung membentuk spermatozoa yaitu testis. Alat kelamin pelengkap terdiri atas salurantestis yang menuju kloaka yaitu epididymis,vas defferens, dan papillae (Sarengat, 1982).
Testis pada unggas berbentuk bulat seperti kacang, terletak ventral dari lobus anterior ginjal. Ukuran testis tidak selalu konstan, karena menjadi besar pada saat musim kawin. Bagian kiri sering lebih besar dari bagian kanan. Pinggir medial testis sedikit konkaf dan mempunyai penjuluran kecil pipih yang dianggap sama seperti epididimis pada mammalia. Dari situlah keluar saluran vas defferens yang secara bergelombang-gelombang lateral terhadap ureter masuk ke dalam kloaka (Soegiarsih, 1990). Unggas jantan berbeda dari ternak piaraan lainnya, karena testis tidak turun dalam skrotum tetapi tetap dalam rongga badan. Testis menghasilkan sperma untuk membuahi telur yang berasal dari hewan betina. Testis yang berbentuk bulat kacang tersebut besarnya berbeda-beda menurut umur dan besar unggas. Permukaan testis diselaputi oleh suatu jaringan fibrosa yang kuat yang diteruskan kedalam testis membentuk kerangka penunjang tenunan testis (Sarwono, 1993).
Masing-masing vas defferens menuju papilae yang berfungsi sebagai organ cadangan yang mengalami rudimenter. Papilae ini terletak di bagian tengah dari kloaka  (Sarengat, 1982). Unggas air memiliki alat kopulasi yang nampak jelas, penis yang berbentuk spiral dan bengkok, terdiri dari tenunan fibrosa dan terletak pada dinding ventral kloaka,mempunyai suatu legok, dan semen testis pada unggas berbentuk bulat seperti kacang, terletak ventral dari lobus anterior ginjal (Soegiarsih, 1990). Khusus pada itik, spermanya mampu bertahan hidup 5-6 hari didalam saluran genetika itik betina (Srigandono, 1997).

Sistem Reproduksi Unggas Betina
Sistem reproduksi unggas betina terdiri dari alat kelamin primer dan alat kelamin sekunder. Alat kelamin primer adalah ovarium dan alat kelamin sekunder adalah oviduct atau saluran telur. Unggas betina secara normal hanya memiliki ovarium dan oviduct sebelah kiri yang berkembang sempurna (Sarengat, 1982). Ovarium merupakan bagian alat kelamin primer yang berfungsi sebagai alat pembentuk telur. Ovarium terletak diantara paru-paru dan ginjal dibawah dan dibelakang hati, ovarium tersebut terletak pada tulang belakang dan dikelilingi oleh alat-alat lainnya sehingga ia tertutup dalam suatu kantung ovarium sehingga jalan satu-satunya adalah oviduct (Sarwono, 1993).
Ovarium tersebut terletak pada tulang belakang dan dikelilingi oleh alat-alat lainnya, sehingga ia tertutup dalam suatu kantong ovarium. Jalan satu-satunya untuk keluar adalah oviduct (Blakely dan Bade, 1991). Oviduct digantung oleh dua lapis lipatan peritoneum yang membentuk ligamen-ligamen oviduct. Oviduct terdiri dari 5 bagian, yaitu infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina. Infundibulum berfungsi sebagai corong yang terdapat pada bagian ujung oviduct, di tempat inilah terjadi pembuahan. Magnum terletak di bagian bawah funnel, panjangnya 33 cm. Vagina merupakan tempat penyimpanan telur sementara waktu, sebelum telur dikeluarkan dari dalam tubuh (Sarwono, 1993). Tugas uterus adalah menyempurnakan pembentukan telur, dari uterus telur keluar menuju vagina dan kemudian kloaka (Hunter, 1995).

Tujuan dan Kegunaan Praktikum
Tujuan Praktikum
1.    Untuk mengenal organ organ luar dan dalam
2.    Praktikan bisa membedah dan melihat secara langsung organ organ dalam pada ternak unggas.
3.    Praktikan dapat menganalisa dan membedakan secara langsung antara ayam dengan itik yang diperaktikkan.

Kegunaan Peraktikum
1.    Untuk mengenal organ organ luar dan dalam pada unggas dan dapat melihat secara langsung perbedaan antara itik dengan ayam secara ilmiah oleh kami sebagai praktikan/prak

BAB III
MATERI DAN METODE
Materi Praktikum
Anatomi dan Identifikasi Ternak Unggas
            Praktikum dengan materi Anatomi dan Identifikasi Ternak Unggas menggunakan satu itik jantan dan satu ayam betina (petelur).
Alat-alat yang digunakan praktikum berupa :
•    2 buah gunting bedah (lurus dan bengkok)
•    2 buah Pisau bedah (besar dan kecil)
•    Timbangan
•    Penggaris untuk mengukur organ organ unggas
•    Preparat plastik
•    Air dingin
•    Air panas
•    Ember
•    Kardus untuk tempat membuang bulu unggas
•   
Bahan-bahan Praktikum.
•    1 ayam betina (petelur)
•    1 itik jantan

Metode
Anatomi dan Identifikasi Ternak Unggas
Praktikum Anatomi Unggas menggunakan metode  dengan menyembelih  satu ayam betina dan satu itik dewasa pada bagian pangkal leher sedalam kira-kira 2 cm sehingga vena junggularis dan arteri karotis terputus, meletakkan ayam yang sudah mati pada nampan yang tersedia, lalu melakukan pembedahan dada unggas yang dimulai dengan mengiris bagian perut ke samping kiri dan kanan sampai pada bagian dada depan, mengusahakan agar organ dalam tidak rusak.  Pengirisan dapat menggunakan gunting atau pisau. Bagian yang telah diiris dibuka sehingga terlihat organ dalamnya.  Mengeluarkan dan memisahkan organ pencernaan, reproduksi, urinari, dan pernapasan.  Mengidentifikasi penyakit yang menyerang dengan mengamati kelainan pada organ setelah dikeluarkan.
Metode yang digunakan dalam praktikum Pengenalan Jenis, Anatomidan Klasifikasi Ternak Unggasyaitu dengan menyiapkan satu ayam betina (petelur) afkir dan satu itik jantan dewasa, mengamati perbedaan yang ada dari eksterior ayam dan itik tersebut. Parameter yang diamati yaitu karakteristik unggas meliputi warna bulu pada leher, dada, punggung, sayap dan ekor, warna kaki, ada tidaknya taji dan selaput renang, bentuk pial paruh, dan feather sex yang ada pada itik jantan tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan dari hasil pengamatan  eksterior pada unggas darat dapat diketahui dengan melihat ilustrasi sebagai  berikut
Gambar organ-organ dalam pada unggas

Ilustrasi alat pencernaan pada ayam

Gambar alat reproduksi pada unggas betina
            Perbedaan unggas darat dan unggas air dimulai dari bentuk paruh. Unggas darat mempunyai paruh lancip, sedangkan untuk unggas air lebih besar karena jenis pakan berbeda. Ukuran tembolok pada unggas darat lebih besar daripada unggas air, sehingga unggas darat lebih besar kemampuannya dalam menyimpan makanan sementara. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al., (2005) bahwa tembolok berfungsi untuk menyimpan pakan sementara, terutama pada saat ayam makan dalam jumlah banyak. Gizzard pada unggas air lebih besar daripada unggas darat sehingga kemampuan mencerna serat pakan pada unggas air lebih tinggi. Usus halus pada unggas air lebih panjang daripada unggas darat sehingga daya absorbsi unggas air lebih tinggi. Itik jantan dan itik betina memiliki perbedaan yaitu pada ekor betina melengkung ke atas sedangkan pada ekor jantan melengkung ke bawah dan postur tubuhnya lebih tegak. Hal ini sesuai dengan Susilorini et al., (2009), yang menyatakan bahwa ciri-ciri unggas air yaitu kaki relatif pendek dibanding dengan tubuhnya, jari-jari kaki satu sama lain dihubungkan oleh selaput renang, paruh melebar dan dilapisi oleh selaput halus yang peka, tubuh ditutup oleh bulu. Perbedaan antara itik betina dan jantan adalah postur tubuh itik betina lebih tegak dan lebih besar daripada itik jantan.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Anatomi Organ dan Sistem Organ Interior Unggas
Parameter                Panjang (cm)              Berat (gr)
Bobot hidup                    -                              1600
Bobot mati                      -                              1541
Kepala                          6,5                             33
Leher                            10                              59
Sayap                           16                              59
Cakar                            6                               31
Saluran, organ dan kelenjar aksesoris sistem pencernaan
1.      Paruh                   2                                2
2.      Oesophagus         4                                2
3.      Crop                    6                               18
4.      Proventriculus       8                               11
5.      Ventriculus            6                               32
6.      Duodenum           22,5                           9
7.      Pankreas              11,5                           2
8.      Hati                      11,2                          38
9.      Empedu                3,7                            2
10.  Jejunum                  64                             25
11.  Ileum                      55                             16
12.  Ceca                      17                              8
13.  Colon dan rektum   8                                2
14.  Cloaca                   2,5                             9   
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2010.

Sistem pencernaan ayam berdasarkan hasil pengamatan terdiri atas mulut, kerongkongan atau esophagus, tembolok, lambung kelenjar (proventrikulus), lambung otot (gizzard), usus halus yang terdiri dari duodenum, jejenum dan illeum, usus besar, usus buntu (secum) dan kloaka. Di samping itu terdapat kelenjar pencernaan yang berperan sebagai penghasil enzim dalam proses pencernaan makanan yaitu pankreas, hati dan limpa. Hal ini sesuai dengan pendapat (Anggorodi, 1994) yang menyatakan bahwa organ pencernaan ayam terdiri atas mulut, faring, esophagus, tembolok, lambung, kelenjar, lambung otot, usus halus, usus buntu, usus besar, kloaka, dan alat asesoris yang berupa hati, limpa, dan pankreas. Mulut ayam tidak memiliki bibir dan gigi. Peranan saliva dalam proses pencernaan makanan yakni sebagai pengganti gigi sebab ayam tidak memiliki gigi dalam hal ini untuk mengunyah makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Akoso, 1998) bahwa saliva atau kelenjar ludah dalam jumlah sedikit dikeluarkan dalam mulut untuk membantu menelan makanan untuk melicinkan makanan yang masuk menuju esophagus dan diteruskan ke tembolok.
Tembolok berbentuk kantong dan merupakan daerah pelebaran dari esofagus. Peru tterdiri dari perut kalenjar (proventriculus) yang merupakan pipa yang dindingnya menebal menuju kearah perhubungan dengan gizzard . Gizzard pada ayam jantan percobaan berwarna merah segar.Gizzard terdiri atas serabut otot yang keras dan kuat yang berfungsi untuk menggiling dan meremas pakan yang keras. Kelenjar-kalenjar yang terdapat di dalam proventriculus memproduksi getah-getah (asamgaram, pepsin dan HCl) untuk membantu pencernaan makanan di dalam perut dan perut muscular (ventriculus) yang berfungsi sebagai alat penghancur makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Anggorodi, 1994) bahwa kelenjar-kalenjar di dalam proventriculus memproduksi getah-getah (asamgaram, pepsin dan HCl) untuk membantu pencernaan makanan di dalam perut dan perut muscular (ventriculus) yang berfungsi  sebagai  alat  penghancur  makanan.  Akoso (1998) juga menambahkan bahwa proventriculus atau perut kelenjar merupakan pelebaran dan penebalan dari ujung akhir esophagus. Pencernaan pakan di dalam perut kelenjar hanya kecil peranannya karena makanan hanya tinggal sebentar di dalam organ ini dalam waktu yang relatif singkat.
Usus terdiri atas saluran makanan yang dimulai dari duodeum, yaitu usus halus di bagian depan, jejenum, ileum, dan berakhir di rektum atau usus besar di bagian paling belakang. Usus halus pada ayam jantan berwarna kekuningan dan panjangnya 141,5 cm, Usus buntu atau secum pada ayam jantan berjumlah sepasang dan  berwarna hitam kehijauan. Panjang secum pada ayam jantan17 cm dan 15 cm. Hal ini sesuai dengan pendapat Srigandono (1997) yang menyatakan bahwa Percabangan dari ujung usus halus dikenal dengan caecum. Panjang ceacum mencapai 10-20cm. Didalam ceacum terjadi proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme yang mencerna serat kasar. Usus buntu selalu berisi sejumlah makanan atau bahan yang tidak tercerna. Makanan dari usus halus masuk kedalam usus besar kemudian berjalan dan berakhir di kloaka. Usus besar pada ayam jantan berwarna kekuningan dengan panjang 8 cm. Kloaka merupakan suatu tabung yang berhubungan dengan saluran pencernaan, saluran kencing dan reproduksi yang  membuka  keluar menuju kloaka. Hal ini sesuai pendapat (Akoso, 1998) bahwa kloaka merupakan pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinari, dan genital.
Saluran Pencernaan Itik
Tabel 2. Hasil Pengukuran
Parameter                  Panjang (cm)              Berat (gr)
Bobot hidup                                                  1044
Bobot mati                                                     915
Kepala                                                           45
Leher                                                             36
Sayap                                                          49/47
Cakar                                                          36/37
               
Saluran, organ dan kelenjar aksesoris
sistem pencernaan                                          19
1.      Paruh                                                     6
2.      Oesophagus                                           2
3.      Crop                                                      4
4.      Proventriculus                                        38
5.      Ventriculus                                             7
6.      Duodenum                                             29
7.      Pankreas                                               35
8.      Hati                                                       2
9.      Empedu                                                 16
10.  Jejunum                                                   6
11.  Ilenum                                                     2
12.  Ceca                                                       6
13.  Colon dan rektum                                    2
14.  Cloaca               
        Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2010

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum alat pencernaan pada itik hampir sama seperti alat pencernaan ayam. Saluran pencernaan dimulai dari mulut atau paruh dan berakhir di kloaka. Paruh pada itik berbentuk pipih, bersifat lunak, dan berwarna gelap. Tembolok merupakan pelebaran dinding esophagus. Tembolok pada itik dan unggas air lainnya tidak berkembang dengan sempurna seperti pada ayam. Hal ini disebabkan oleh makanan itik banyak mengandung air sehingga mudah ditelan. Tembolok semata-mata berfungsi sebagai penampung sementara makanan.
Gizzard pada itik jantan dan betina memiliki panjang 6 cm dan lebar 5 cm. Usus terdiri atas saluran makanan yang dimulai dari duodeum, yaitu usus halus di bagian depan, jejenum, ileum, dan berakhir di rectum atau usus besar di bagian paling belakang. Usus halus pada itik jantan dan betina memiliki panjang 122 cm. Usus buntu atau secum pada itik jantan dan betina berjumlah sepasang dan  berwarna hitam kehijauan. Panjang secum pada itik jantan adalah 14 cm, sedangkan pada itik  betina panjangnya 15 cm. Usus buntu selalu berisi sejumlah makanan atau bahan yang tidak tercerna. Makanan dari usus halus masuk kedalam usus besar kemudian berakhir di kloaka. Usus besar pada itik jantan memiliki panjang 12 cm sedangkan pada itik betina panjangnya 10 cm. Kloaka merupakan suatu tabung yang berhubungan dengan saluran pencernaan, saluran kencing dan reproduksi yang membuka keluar menuju kloaka. Hal ini sesuai pendapat     Akoso (1998) bahwa kloaka merupakan pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinari, dan genital.

Berdasarkan hasil praktikum bahwa sitem pernafasaan ayam terdiri dari larink, trachea, bronchus, broncheolus dan paru-paru. Hal Ini sesuai dengan pendapat (Sarwono, 1993) bahwa sistem pernafasan unggas terdiri dari hidung, trachea,laring, bronchus, broncheolus, dan paru-paru. Bagian utama dari organ pernafasan adalah paru-paru. Bentuk paru-paru seperti spons. Paru-paru pada ayam jantan dan betina berwarna merah. Paru-paru dibatasi oleh tulang rusuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiarsih (1990) bahwa paru-paru merupakan organ vital dalam sistem pernafasan unggas, karena paru-paru merupakan pengatur sirkulasi udara dalam tubuh unggas.
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil bahwa saluran pernafasan itik tidak jauh berbeda dengan sistem pernafasan ayam. Shirink antara itik jantan dan betina berbeda, dimana shirink pada itik jantan berkembang sedangkan pada itik betina kurang berkembang. Shirink pada itik jantan percobaan berwarna putih agak jernih dan berfungsi untuk pengeluaran suara sehingga suara itik jantan menjadi lebih nyaring dari pada itik betina. Shirink menjadi pembeda yang jelas antara ayam dan itik. Paru-paru pada itik percobaan berwarna merah muda dan menempel pada tulang punggung. Bagian utama dari organ pernafasan adalah paru-paru karena berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiarsih, (1990) bahwa paru-paru merupakan organ vital dalam sistem pernafasan unggas, karena paru-paru merupakan pengatur sirkulasi udara dalam tubuh unggas.

   Sistem reproduksi unggas
 Sistem reproduksi unggas jantan

            Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa itik jantan maupun ayam jantan memiliki dua buah testis yang berbeda dalam rongga perut bagian atas terletak memanjang di punggung di dekat ujung ginjal sebelah depan dan di bawahnya. Testis berbentuk lonjong berwarna kuning pucat dan sering memiliki anyaman, pembuluh darah berwarna merah di permukaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Srigandono (1997) bahwa sistem reproduksi unggas jantan sederhana sekali, yaitu terdiri dari dua testis yang masing-masing mempunyai sebuah saluran sperma yang bernama vas dafferens dan sebuah kloaka yang menjadi muara dari sistem reproduksi tersebut. Testis unggas bentuknya bulat seperti kacang. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiarsih (1990) bahwa testis pada unggas berbentuk bulat seperti kacang, terletak ventral dari lobus anterior ginjal.
Organ reproduksi itik jantan dan betina jelas berbeda. Alat reproduksi itik jantan terdiri dari sepasang testis, vas defferens, kloaka, serta papillae yang terlihat jelas. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa Papillae itik berkembang lebih baik dibandingkan dengan papillae ayam. Papillae pada itik percobaan berbentuk spiral dan berwarna putih susu. Testis itik berjumlah sepasang dan masing-masing terletak pada rongga perut bagian atas. Testis mempunyai saluran mani yang merupakan alat kelamin sekunder. Testis ini mirip biji buncis dan besarnya tergantung dari umurnya, testis kiri biasanya lebih besar daripada testis kanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1993) yang menyatakan bahwa Testis menghasilkan sperma untuk membuahi telur yang berasal dari hewan betina. Testis yang berbentuk bulat kacang tersebut besarnya berbeda-beda menurut umur dan besar unggas. Permukaan testis diselaputi oleh suatu jaringan fibrosa yang kuat yang diteruskan kedalam testis membentuk kerangka penunjang tenunan testis. Papillae merupakan organ cadangan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sarengat (1982) yang menyatakan pada papillae merupakan organ cadangan yang mengalami rudimeter dan terletak bagian tengah kloaka.

Sistem

Berdasarkan hasil pengamatan praktikum didapatkan hasil bahwa ureter pada ayam betina berwarna kehitaman. Ureter berfungsi mengalirkan urin dari ginjal ke urethra. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa ureter adalah saluran muscular yang mengalirkan urin dari dinding ginjal menuju ke bladder atau kantung kencing. Urethra pada ayam jantan dan betina berwarna putih kekuningan dan berfungsi menampung urin sebelum dikeluarkan. Kloaka berfungsi sebagai muara saluran urinari. Hal ini sesuai dengan pendapat Akoso (1998) bahwa kloaka merupakan pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinari, dan genital.

Sistem Urinari Itik
            Sistem urinari pada itik terdiri atas sepasang ginjal, ureter, urethra, dan kloaka. Ginjal pada itik terdiri atas tiga lobus dan berwarna  merah gelap.
                                                                                                                                                Berdasarkan hasil pengamatan praktikum didapatkan hasil bahwa organ urinari itik dan ayam sama yang terdiri dari sepasang ginjal, ureter urethra, dan kloaka. Sama halnya dengan ayam, kloaka itik merupakan muara dari tiga saluran. Kencing dari itik keluar bersama-sama feses melalui kloaka. Pembeda antara sistem urinari jantan dan betina hanya pada bentuk saluran ureter. Saluran ureter yang keluar pada itik betina ada bagian yang tergabung dan kemudian memisah lagi dan akhirnya menuju kloaka. Ginjal itik sama dengan ginjal ayam yang terdiri dari tiga lobus. Hal ini sesuai dengan pendapat Hunter (1995) bahwa sistem urinari unggas terdiri atas sepasang ginjal yang berbentuk panjang yang menempel rapat pada tulang punggung dan tulang rusuk serta melekat pada selaput rongga perut. 

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Eksterior ayam dan itik, terdapat perbedaan yang menonjol antara lain adalah, pada ayam terdapat jengger, cuping. Paruh itik lebih panjang sedangkan pada ayam tidak, itik mempunyai leher lebih panjang dibandingkan dengan ayam, bentuk badan ayam lebih datar sedangkan itik lebih tegak dan ramping, ekor ayam memiliki bulu yang panjang dan berbentuk bulan sabit pada jantannya sedangkan pada itik jantan memiliki bulu ekor yang pendek dan terdapat feather sex yang membedakan dengan itik betina. Kaki itik memiliki selaput renang sedang kaki ayam tidak. Sistem pencernaan itik kurang berkembang dengan baik di banding organ pencernaan ayam. Penyusunan ransum unggas bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan nutrisi unggas. Komposisi ransum sudah memenuhi standar pada kandungan energi, tetapi protein hanya dipenuhi dari tepung ikan yang harganya mahal dan berdampak memberi aroma ikan pada daging.
Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya demi kelancaraan praktikum sebaiknya sarana dan prasana praktikum harus menunjang praktikan, agar hasil yang diperoleh dapat valid.

SARAN
    Kepada para praktikan agar memperhatikan cara mengidentifikasi organ organ luar maupun dalam yaitu alat respirasi maupun alat pencernaan pada unggas yang di peraktikkan atau yang dibedah dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B.T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.
 
Blakely, J dan D. H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University          Press.  (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono).

Frandson. 1992. Anatomi Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Hunter, R. H. F. 1995. Fisiologi dan Teknologi dan Reproduksi Hewan Domestik. ITB. Bandung.

Rasyaf, M. 1997. Penyajian Makanan AyamPetelur. Kanisius, Jakarta.

Sarwono, B. 1993. Ragam Ayam Piaraan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sarengat, W. 1982. Pengantar Ilmu Ternak Unggas. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang.

Soegiarsih, P. 1990. Diktat Ilmu Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.

Srigandono, B. 1997. Produksi Unggas Air. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.