Minggu, 01 April 2012

LAPORAN PRAKTIKUM (ILMU PRODUKSI TERNAK POTONG dan KERJA)

LAPORAN PRAKTIKUM
(ILMU PRODUKSI TERNAK POTONG dan KERJA)
 
O
L
E
H


NAMA     : M.ISROK IRAJAB
NIM         : BID 010 113
KELAS     : B






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2011


KATA PENGANTAR
           Puji syukur atas kehadirat alla SWT, karena dengan rahmat dan hidayahnya sehingga penulisan laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada dasarnya laporan ini berisi tentang Menentukan Umur Ternak Sapi Potong, menghitung dan mengukur status faali ternak sapi potong, dan Mengamati Kondisi Eksterior Ternak Sapi Potong.
Tidak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing dan  para co. assisten, yang telah membimbing kami baik dalam pelaksanaan praktikum maupun dalam penyusunan laporan ,Sehingga laporan ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya.
           Kami juga menyadari, bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu, kami berharap kritik dan saran baik dari Dosen Pembimbing, maupun dari teman-teman yang bersifat membangun.






 Mataram, 2 Desember 20011
Penyusun

M.ISROK IRAJAB
                                                       

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………    I
KATA PENGANTAR    I
DAFTAR ISI    ii
PENDAHULUAN
Latar belakang   
Tujuan dan kegunaan   
TINJAUAN PUSTAKA   
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
Materi Praktikum   
Metode Praktikum   
                 Tempat Dan Tanggal Praktikum   
HASIL DAN PEMBAHASAN
hasil praktikum   
pembahasan..   
KESIMPULAN DAN SARAN
kesimpulan.....................................................................................................
saran…...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. ….....
LAMPIRAN…………………………………………………………………………....


PENDAHULUAN
    Latar Belakang
    Sapi potong merupakan salah satu sumber daya  penghasilan bahan makanan berupa daging yang nilai ekonomi tinggi dan penting  dalam  kehidupan  masyarakat.Ternak adalah segala jenis binatang yang dipelihara untuk tujuan diambil produksinya, berupa daging,dan susu,. Produk tersebut bisa diperoleh dari berbagai jenis ternak, antara lain, kambing, sapi, domba, dan kerbau,Ternak potong adalah jenis ternak yang dipelihara untuk menghasilkan daging sebagai produk utamanya. Sementara ternak kerja yaitu ternka yang dipelihara untuk diambil tenaganya.
          Pemeliharaan sapi potong di Indonesia di lakukan secara ekstensif,semi intensif,danintensif,Pada umumnya sapi-sapi yang dipelihara secara intensif hampir sepanjang hari berada dalam kandang dan diberikan pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat gemuk, sedangkan secara ekstensif sapi-sapi tersebut dilepas dipadang pengem-balaan dan digembalakan sepanjang hari
        Iklim di indonesia dalah Super Humid atau panas basah yaitu klimat yang ditandai dengan panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus menerus. Temperatur udara berkisar antara 21.11°C-37.77°C dengan kelembaban relatir 55-100 persen. Suhu dan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan stress pada ternak sehingga suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun, akhirnya menyebabkan produktivitas ternak rendah. Selain itu berbeda dengan factor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, maka iklim tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia.




    Tujuan dan Kegunaan Praktikum
    Tujuan Praktikum

ACARA I MENENTUKAN UMUR TERNAK SAPI POTONG
    Mempelajari cara menimbang ternak sapi dan mengetahui bobot badan ternak sapi potong dengan cara mengukur bagian-bagian tubuh sapi.
ACARA II STATUS FAALI TERNAK SAPI POTONG
    Untuk mengetahui perubahan gigi dan cara penentuan umur ternak berdasarkan keadaan gigi.
    Mempelajari bagai mana cara menghitung respirasi ternak potong
    Mempelajari tentang bagai mana cara mengukur suhu tubuh ternak potong..
    Untuk mengetahui cara menghitung  denyut nadi ternak. .
    Mempelajari cara membaca temperatur dan kelembaban kandang pada ternak sapi potong.

ACARA III MENGAMATI KONDISI EKSTERIOR TERNAK SAPI POTONG
    Mempelajari kondisi eksterior tubuh ternak sapi potong.

    Kegunaan Praktikum

ACARA I MENENTUKAN UMUR TERNAK SAPI POTONG
    praktikan  dapat mengetahui cara menimbang sapi dan mengetahui bobot badan dengan melihat ukuran bagian-bagian tubuh ternak sapi potong.

ACARA II STATUS FAALI TERNAK SAPI POTONG
    Agar praktikan mengetahui perubahan gigi dan cara penentuan umur ternak berdasarkan jumlah gigi yang di miliki oleh ternak tersebut.
    Agar praktikan mengetahui suhu tubuh ternak pada jenis kelamin, umur, dan suhu lingkungan berbeda, serta melatih keterampilan dalam melakukan pengukuran.
    Agar praktikan mengetahui cara mengukur respirasi pada ternak  terse.
    Agar praktikan mengetahui kondisi temperatur dan kelembaban kandang pada ternak sapi potong Agar praktikan mengetahui denyut nadi pada ternak
    Agar praktikan mengetahui kondisi temperatur dan kelembaban kandang pada ternak sapi potong.

ACARA III MENGAMATI KONDISI EKSTERIOR TERNAK SAPI POTONG
    Agar praktikan mengetahui  semua yang di praktikkan,khususnya kondisi ekstriorsapi potong.


TINJAUAN PUSTAKA
Sapi bali yang depelihara secara tradisional dengan pakan hijauan berupa rumput-rumputan dan hijauan konvensional memberikan pertambahan bobot  Universitas Sumatera Utara badan yang rendah, yaitu 100-200 g/ekor/hari. Beberapa hasil penelitian  menyatakan bahwa sapi bali cukup responsif dalam upaya perbaikan pakan.  Pemberian hasil samping kelapa sawit yang diamoniasi  terbukti dapat  meningkatkan konsumsi bahan  kering ransum dari 3,9 kg menjadi 4,3 kg dan meningkatkan pertambahan bobot badan  dari0,3 kg menjadi 0,4 kg/ekor/hari (Hasnudi, 1997).
Suhu tubuh sapi dipengaruhi oleh jenis, bangsa, umur, jenis kelamin, kondisi dan aktivitasnya.  Kisaran tubuh normal pada sapi adalah 38,5-39,6 0C dengan suhu kritis 40 0C (Subronto, 1985).
Suhu lingkungan yang berubah-ubah menyebabkan ternak selalu berusaha untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap, karena sapi adalah hewan homeothermis. Kisaran suhu tubuh normal anak sapi 39,5-40ºC, sedangkan untuk sapi dewasa 38-39,5ºC (Sugeng, 2000).
Rata-rata frekuensi pernafasan sapi adalah 10-30 kali per menit. Pernafasan akan lebih cepat pada sapi yang ketakutan, lelah akibat bekerja berat dan kondisi udara terlalu panas (Sugeng, 2000).
Hewan yang sakit atau stress akan meningkat denyut jantungnya untuk waktu tertentu. Semakin tinggi aktivitas yang dilakukan ternak, semakin cepat denyut nadinya. Hewan yang mempunyai ukuran tubuh lebih kecil, denyut nadinya lebih besar daripada hewan yang mempunyai ukuran tubuh besar (Frandson, 1992).
Respirasi adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimis dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Frekuensi respirasi bervariasi tergantung antara lain dari besar badan, umur, aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen. Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan. Meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologik dalam tubuh hewan. SKelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi.
Frekuensi denyut nadi dapat dideteksi melalui denyut jantung yang dirambatakan pada dinding rongga dada atau pada pembuluh nadinya. Frekuensi denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan. Disebutkan pula bahwa hewan muda mempunyai denyut nadi yang lebih frekuen daripada hewan tua. Pada suhu lingkungan tinggi, denyut nadi meningkat(Housebanri ,2009).
       Mengukur panjang badan dapat dilakukan dengan cara menempatkan tongkat ukur bagian permanen dibagian depan tulang persendian pada kaki depan dan cara membacanya harus lurus, sehingga pengukuran yang dilakukan akurat (Susetyo, 1977).
Lingkar dada pada ternak menunjukkan berat badannya, di mana semakin panjang lingkar dadanya maka semakin berat bobot badan ternak tersebut dan sebaliknya semakin pendek lingkar dada suatu ternak maka berat badan ternak tersebut ringan atau ternak tersebut kurang sehat/ kurus (Roche, 1975).
Adapun untuk menentukan umur sapi yang perlu diperhatikan adalah kondisi gigi yang meliputi pertukaran gigi seri susu dengan gigi seri tetap, perecupan gigi seri, pergesekan, dan bintang gigi. Jika gigi seri susu I1 sudah berganti dengan gigi seri tetap dan sudah merecup, berarti umur sapi 2 tahun. Jika gigi seri susu I2 sudah berganti dan merecup, berarti umur sapi 3 tahun. Jika gigi seri susu I3 sudah berganti dan merecup, umur sapi 3,5 tahun. Jika semua gigi seri telah berganti (I4) dan merecup, umur sapi 4 tahun. Jika I4 ada tanda pergesekan, berarti umur sapi 5 tahun. (Timan 2003).
Sudut mata terlihat bersih tanpa adanya kotoran atau getah radang dan tidak terlihat perubahan warna di selaput lendir dan kornea matanya. Ekornya selalu aktif mengibas untuk mengusir lalat.  Pernafasan denyut jantung dan ruminansi normal dan dapat dirasakan (Akoso, 1996).

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

Materi Praktikum
    Alat-alat praktikum
    Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
    stetoskop
    termometer
    taimbangan kapasitas 1000 kg
    stop wact
    pita ukur
    tongkat ukur
    Thermo Hygrometer
    Temperatur ruang
    Tabel Pencatatan Data

    Bahan-bahan praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
    Sapi Jantan Umur 2,5 tahun
    vaselin
    alkohol


Metode Praktikum
Adapun metode-metode yang dilakukan sebelum melakukan praktikum yaitu:
    Membersihkan kandang
    Memandikan ternak

ACARA I MENENTUKAN UMUR TERNAK SAPI POTONG
    Mempelajari bagai cara menimbang ternak dan mengetahui berat badsan dari ternak tersebut
    Menyiapkan ternak yang akan ditimbang dan diukur, ushakan tidak dalam keadaan setres.
    Memasukkan ternak sapi pada penimbangan ternak besar kapasitas 1000kg.
    Mengukur tubuh ternak dengan menggunakan tongkat ukur dan pita ukur
    Pengukuran di ulangi 1-3 kali untuk mendapatkan hasil yang optimal
    Mencatat hasil penimbangan dan pengukuran pada table data.


ACARA II STATUS FA’ALI TERNAK SAPI POTONG
    Mempelajari perubahan gigi dan cara penentuan umur ternak berdasarkan jumlah gigi.
    Sapi dimasukkan dikandang jepit, diusahakan agar keadaan tenang dan tidak menjadi gelisah sehingga mempermudah pemeriksaan.
      Kuasailah bagian kepala sapi dengan melingkarkan sebelah lengan tangan pada muka sapi, sekaligus cengkramlah kedua rahang bawah sapi sampai mulut sapi ternganga sehingga giginya tampak. Agar gigi sapi lebih jelas terlihat, bukalah bibir bawahnya.
    Periksa dan rabalah permukaan gigi serinya hingga jelas terlihat dan terasa keadaanya.
    Mempelajari suhu tubuh ternak sapi potong pada jenis kelamin, umur, dan suhu lingkungan berbeda.



    Penentuan suhu tubuh
    Hewan-hewan pengamatan terlebih dahulu diidentifikasi dalam keadaan tenang agar mendapatkan hasil pengukuran yang optimal.
    Menyiapkan thermometer dengan cara dikibas-kibas untuk menurunkan permukaan air raksanya sampai angka terendah, kemudian ujung thermometer dicelupkan kedalam pelicin (vaselin).
    Memegang ternak dengan hati-hati dan tenang, kemudian angkat ke atas ekornya hingga kelihatan rektumnya.
    Memasukan thermometer pada rectum  ternak selama ± 1 menit
    Memperhatikan  letak ujung thermometer masuk ke dalam mukosa rectum
    Membaca suhu yang ditunjukan thermometer dengan melihat posisi permukaan air raksanya.
    Ulangi sebanyak 3 kali
    Mencatat data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut didalam table lembar pencatatan data.
    Pengukuran suhu rektal di lakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari.

    Mempelajari fungsi respirasi pada ternak sapi potong, serta melatih keterampilan dalam melakukan pengukuran frekwensi respirasi.

    Hewan-hewan pengamatan terlebih dahulu diidentifikasi dalam hal jenis/bangsa, jenis kelamin, umur, berat badan dan kondisi tubuh.
    Mengendalikan hewan agar tetap tenang
    Meletakkan punggung telapak tangan di depan hidung sapi
    Merasakan tiap hembusan napasnya
    Hitung pernapasan/ tiap hembusan napas selama 1 menit
    Ulangi 1-3 kali, untuk mendapatkan hasil yang optimum
    Catat hasil pengukuran pada lembar table
    Pengukuran dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

    Mempelajari denyut nadi pada ternak sapi potong. serta melatih keterampilan dalam melakukan penghitungan denyut nadi pada ternak sapi potong.
    Mencari pusat denyut jantung pada ternak ( sapi ) yaitu dilakukan dengan menekan pada arteri femoralis sebelah medial bahu kiri
    Hitung dengan countercheck dan mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop
    Ulangi 1-3 kali
    Mencatat data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut di dalam  table lembar pencatatan data.
    Pengukuran dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.
    Mempelajari temperatur dan kelembaban kandang pada ternak sapi potong.
    Mengamati Termometer Ruang
    Mengamati Higrometer atau Termometer  “basah kering”
    Mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.
    Melakukan hal tersebut 2 kali yaitu pagi dan sore.

ACARA III MENGAMATI KONDISI EKSTERIOR TERNAK SAPI POTONG
    Mempelajari kondisi eksterior tubuh ternak sapi potong.

tempat dan tanggal praktikum
Tempat Praktikum :
Adapun praktikum ini dilaksanakan di Laboraturium Terapan ( Teacing Farm ) Fakultas Peternakan,kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.
Tanggal Praktikum
Adapun praktikum ini dilaksanakan pada tanggal Senin 28,November 2011

   



HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Praktikum

A.IDENTITAS TERNAK
a. No. Ternak                              : 4
b. Jenis Kelamin                         : betina
c. Umur Ternak                           : 3-4½ tahun

B.HASIL PENGAMATAN

a. Bobot Badan                            : 215 kg
b. Ukuran-ukuran tubuh ternak   :
No    Bagian tubuh    Ukuran 1 (cm)    Ukuran 11 (cm)    Ukuran 111 (cm)    Rata-rata (cm)
1    Panjang badan    116    116    116    116
2    Panjang kepala    39,5    40    40    39,83
3    Panjang metacarpal    29    29    29    29
4    Panjang metakarsal    41    41,5    41,5    41,3
5    Panjang paha    75    75    75    75
6    Lebar kepala    16    17    17    16,6
7    Lebar dada    38    38    38    38
8    Lebar pinggul    37    37    37    37
9    Tinggi gumba    107    108    107    107,3
10    Tinggi punggung    106    105    105    105,3
11    Tinggi pinggul    110    111    111    110,6
12    Lingkar dada    147,5    148    147,5    114,3
13    Lingkar perut    170,5    170    170    170,3
14    Lingkar flank    146    146    147    146,3
15    Linkar metacarpal    15,5    15    15    15,1
16    Lingkar metakarsal    16    16    16,5    16,3
17    Dalam dada    56    57    56    56,3
18    Indeks kepala               

ACARA II
a. JUMBLAH GIGI SAPI               : gigi susu tidak ada
b. JUMBLAH LINGKAR TANDUK           :
b.DATA STATUS FAALI TERNAK
No    Parameter    Ukuran I    Ukuran II    Ukuran III    Rata-rata
        Pagi    Sore    Pagi    Sore    Pagi    Sore    Pagi    Sore
1    Suhu Tubuh Ternak (C)        38        38        38        38,1
2    Respirasi (kali/menit)        34        34        33        33,3
3    Denyut Nadi (kali/menit)        57        57        55        356

c.DATA LINGKUNGAN
No.    Parameter    Pagi (jam 06.00-0700)    Sore (jam 15.00-16.00)
1    Temperatul Kandang (C)    30,2 ºC    29ºC
2    Kelembaban Kandang(%)    80%    74%

ACARA III PENGAMATAN EKSTERIOR
 
    Warna sapi : coklat terang
    Gigi rahang bawah depan / gigi susu ompong.
    Koreng di kedua kaki depannya.
    Tanduk melengkung ke belakang.
    Hidung mengkilap berlendir.



PEMBAHASAN

ACARA I MENENTUKAN UMUR TERNAK SAPI POTONG
  
Cara menimbang berat sapi dan mengetahui bobot badan dengan cara mengukur tubuh sapi dengan teliti dan akurat.
        Mengetahui bobot badan ternak sapi potong adalah hal yang sagat penting untuk diketahui guna melihat kebutuhan pakan ataupun kesehatan ternak. Penimbangan merupakan hal yang paling tepat dalam mengetahui bobot badan ternak, tetapi bobot badan ternak juga dapat diperkirakan atau diduga dengan cara mengukur bagian-bagian tubuh ternak atau disebut dengan cara manual. Bagian-bagian ukuran tubuh ternak yang dapat digunakan dalam menduga bobot badan yaitu lingkar dada, tinggi pundak, panjang badan, dalam dada serta tinggi dan lebar kemudi atau pinggul.
Hubungan fungsional antara ukuran tubuh dengan bobot badan  telah di laporkan oleh beberapa peneliti .
Pengukuran bobot badan dengan rumus Schrooel :

BB = /
    =

Lihat panduan praktikum rumusnya



ACARA II STATUS FAALI TERNAK SAPI POTONG
     Cara penentuan umur ternak berdasarkan jumlah gigi dengan melihat jumlah giginya.
Ternak Sapi potong yaitu ternak ruminansia dengan  tujuan pemeliharaannya untuk menghasilkan daging. Sedangkan ternak kerja adalah ternak yang tujuan utamanya untuk di manfaatkan  tenaganya.
        Sapi potong dan kerja dapat kita ketahui dan menentukan umurnya dengan cara melihat catatan kronologinya,lingakaran yang ada pada tanduk atau cincin tanduk dapat pula dilahat dengan cara menghitung jumlah perubahan gigi. Jika jumlah cincin tanduknya 2 dapat di perkirakan bahwa  sapi tersebut berumur 3 tahun. Sedangkan jika terdapat 2 gigi lebar (I I) berarti dapat diperkirakan berumur  2 tahun, jika 4 gigi lebar ( I 2) dapat diperkirakan berumur 2 – 2 1/2 , jika terdapat ada 6 gigi lebar (I 3) berarti diperkirakan umur 2½ - 3 ½ tahun, jika 8 gigi lebar (I 4) berarti diperkirakan berumur 31/2 – 41/2 tahun, I 0: Sapi Umur 1-11/2 tahun, dan gigi tua : Sapi umur > 9 tahun, jadi dengan mengetahui keterangan tersebut kita dapat memperkirakan umur suatu ternak sapi, begitu pula dengan ternak potong dan kerja lainnya.
    Menghitung suhu tubuh ternak sapi potong pada jenis kelamin, umur, dan suhu lingkungan berbeda.
    Ternak Sapi potong adalah ternak ruminansia yang tujuan pemeliharaannya untuk menghasilkan daging. Sedangkan ternak kerja adalah ternak yang tujuan utamanya untuk di manfaatkan tenaganya.
    Pada umumnya Suhu tubuh pada ternak sapi potong tergantungn pada jenis kelamin, umur dan suhu lingkungan. Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak dapat bervariasi karena adanya perbedaan jenis kelamin,umur,suhu lingkungan, aktivitas, aktivitasyang di lakukan oleh sapi tersebut. Suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral pada aktivitas tubuh terendah. Variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa. Sehingga ketika dilihat suhu rektal sapi potong jantan dipagi hari dan sore hari berbeda, dapat dikatakan pula bahwa hal tersebut dikarenakan beberapa faktor yaitu aktivitas, iklim, suhu kandang yang yang berubah.
Salah satu cara untuk mendapatkan gambaran mengenai suhu tubuh adalah dengan melihat suhu rectal dengan pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan dapat mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai suhu tubuh.
    Fungsi respirasi pada ternak sapi potong.
Respirasi adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimiawi dalam tubuh organisme pada lingsskungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Frekuensi respirasi bervariasi tergantung dari besar badan, aktifitas tubuh,umur dan penuh tidaknya rumen. Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan. Meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis dalam tubuh hewan. Kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi.
    Pada saat penghitungan respirasi sapi potong diwaktu pagi dan sore berbeda, dimana respirasi di pagi hari lebih rendah dibandingkan sore hari, hal itu dikarenakan pula adanya beberapa faktor yang sama halnya dengan suhu tubuh, dan denyut nadi pada ternak potong sapi, misalnya kelelahan, aktivitas dan isi rumen ternak sapi potong saat itu.
    Menghitung denyut nadi/jantung pada ternak sapi potong.
    Frekuensi denyut nadi dapat dideteksi melalui denyut jantung yang dirambatakan pada dinding rongga dada. Frekuensi denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan. Disebutkan pula bahwa hewan muda mempunyai denyut nadi yang lebih frekuensi dari pada hewan tua. Pada suhu lingkungan tinggi, denyut nadi meningkat. Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga dibutuhkan darah lebih banyak untuk mensuplai O2 dan nutrient melalui peningkatan aliran darah dengan jalan peningkatan denyut nadi..
    Frekuensi denyut sapi pada pagi dan sore hari berbeda dikarenakan pula oleh beberapa faktor yang mempengaruhi suhu dan respirasi pada ternak potong.Setres juga dapat di jadikan sebagai salah satu faktor yang dapat  mempengaruhi berubahnya denyut nadi ternak
    Mengukur temperatur dan kelembaban kandang pada ternak sapi potong.
    Suhu dan kelembaban udara merupakan dua komponen iklim yang paling penting yang harus diperhatikan,karena keduanya sangat mempengaruhi kondisi fisiologi ternak. Suhu lingkungan terutama kandang sangat mempengaruhi respirasi, denyut nadi, dan suhu rektal pada ternak. Suhu lingkungan terutama suhu kandang  yang tunggi dapat menurunkan nafsu makan dan menambah kebutuhan air.Bila hal ini akan terus terjadi akan menghambat laju pertumbuhan dan menurunkan reproduksi ternak. Suhu dalam kandang yang baik yaitu rat-rata 33ºC dengan kelembaban 75%.
    Pada pengamatan yang telah dilakukan oleh praktikan didapatkan temperatur kandang dan kelembaban kandang pada pagi hari berbeda dengan sore hari, dimana temperatur dan kelembaban pada pagi hari lebih tinggi dari pada sore hari, hal tersebut dikarenakan oleh faktor iklim. Namun dapat dikatakan temperatur dan kelembaban kandang tersebut cukup baik atau normal.

ACARA III MENGAMATI KONDISI EKSTERIOR TERNAK SAPI POTONG
    Mempelajari kondisi eksterior tubuh ternak sapi potong.
Sapi adalah ternak ruminansia yang dapat ditemui di seluruh belahan dunia. Sapi bali merupakan domestikal dari banteng(Bibos sondaicus). Pada saat pedet, tubuhnya berwarna merah bata. Sementara ketika dewasa, sapi betina tetap berwarna merah bata, sedangkan sapi jantan berubah menjadi kehitam-hitaman. Terdapat warna putih pada keempat kakinya, mulai dari mulut sampai kebawah, belakng pelvis dengan batas yang tampak jelas dan bentuk setengah bulan, dan garis belut pada punggung ( aals streep ).
Pada pengamatan yang telah praktikan lakukan didapatkan sapi bali yang memilki warna bulu merah bata dan jenis sapi tersebut yaitu jantan.
Mata bersinar, hidung yang bersih dan lain sebagainya adalah hal yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengetahui keadaan sapi pada suhu lingkungan atau suhu kandang tertentu.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

    Suhu lingkungan atau suhu kandang, aktivitas, jenis kelamin, umur, isi rumen dan kelelahan, dapat mempengaruhi suhu tubuh, respirasi dan denyut nadi pada ternak sapi potong.
    Umur ternak dapat diperkirakan dengan cara melihat jumlah gigi, dan cicin tanduknya
Bobot badan ternak sapi potong dapat diperkirakan dengan cara mengukur bagian tubuh ternak sapi.
    Keadaan i eksterior ternak sapi potong yang tidak bermasalah seperti mata bersinar,kuku yang bersih,hidung tidak ingusan ,dan dapat di simpulkan bahwa sapi yang di amati dalam kondisi yang sehat.


Saran
    Diharapkan kepada praktikan agar berhati-hati saat melakukan praktikum ternak potong agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
    Di harapkan pada praktikan supaya tidak ribut pada saat praktikum berlangsung agar ternak supaya ternak tenang dan tidak mengalami stress.






DAFTAR PUSTAKA

Akoso,T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisus: Yogyakartas
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press
Hasanudi. 1997. Pengelolaan Ternak Sapi Pedaging. FP-USU : Medan
Housebandry. 2009. Pengaruh Lingkungan terhadap Keadaan Fisiologis Ternak          Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh: Koen Praseno).

Roche. 1975. Pengukuran Berat Badan Ternak berdasarkan Performance. Yogyakarta: Dinas       Peternakan    Provinsi DIY.

Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Sugeng, Y. B. 2000. Ternak Potong dan Kerja. Edisi I. CV. Swadaya : Jakarta
Susetyo. 1997. Performance Tubuh Ternak. Jakarta: Cv.Yasaguna
Timan.2003. Pengaruh Lingkungan terhadap Keadaan Fisiologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar